Hambar
Setiap perjalanan akan penuh dengan rasa. Ada manis, asam, asin, pahit. Tapi terkadang perjalanan kita terasa hambar. Terkadang aku merasa tidak sedang berada di mana pun dan tidak sedang menjadi siapa pun. Hanyalah aku, manusia biasa biasa saja. Aku memiliki banyak harap tentang hari-hari berikutnya. Tidak peduli seberapa banyak luka yang aku dapat tapi aku tetap berharap tentang hari di mana aku memiliki segalanya; luka yang pulih, hati yang tulus, pikiran yang jernih tanpa mendengar suara atau bisikan apapun.
Ketika semua rasa menghilang dari indera pengecapku, aku ingin bisa menciptakan rasa sendiri. Sebuah rasa yang mungkin orang tidak biasa tau dan mungkin akan menyukainya. Karna aku suka untuk disukai. Eh tapi terkadang aku benci disukai dan menyukai karna kerap hatiku merasa sakit akibat rasa suka yang aku rawat.
Pintaku sederhana; ingin bahagia. Aku mencari kebahagiaan dari ujung sampai ke ujung dunia. Ingin terjun bebas agar jiwaku juga bebas. Tapi setiap kali aku akan melayangkan tubuh selalu saja ada tangan yang meraihnya, menangkap tubuhku seakan menunjukkan bahwa aku masih dibutuhkan di dunia ini. Seakan aku adalah sosok yang berharga untuk dilupakan. Tapi mengapa terasa sangat perih ya? Aku sering ingin meminta diperlakukan secara baik tapi aku sedih ketika ada orang yang benar-benar baik. Tidak, maksudku yang saat itu terlihat baik di mataku. Aku takut ketika orang menjadi baik dan tiba-tiba pergi. Aku takut ketika seseorang baik kemudian aku menyayanginya namun seketika itu juga aku merasa terluka olehnya. Aku bingung dengan perasaanku sendiri dan dengan apa yang telah aku lalui. Ada banyak hal yang kucoba mengerti tetapi sepertinya hal ini selalu gagal aku pahami.
Aku ingin menjadi seseorang yang normal, yang sebisa mungkin bisa mengiringi langkah kaki siapapun tanpa harus berjalan terseok dan menahan sakitnya sendirian. Aku ingin kembali menjadi sosok yang diinginkan, menjadi sosok yang dijadikan tempat berlindung dan berteduh dari riuhnya badai kehidupan. Aku ingin kembali menyayangi dan disayangi, lebih tepatnya mampu mengenali perasaan sayang yang nyata. Selama ini bagian dari diriku selalu berperan mengendalikan perasaanku, mereka selalu berkata bahwa aku tidak cukup baik untuk dicintai. Aku tidak cukup nyaman untuk dibersamai. Tapi aku mencoba meyakinkan diri sekuat tenaga, aku bisa untuk sesekali tidak memercayai apa yang isi kepalaku katakan dan merasakan apa yang hatiku rasakan.
Aku ingin.
Comments
Post a Comment